Sabtu, 25 April 2015

Tikus Nakal-



Tikus Nakal


Malam itu terjadi keributan heboh di rumah Mia, keributan itu membuat seisi rumah harus terbangun karena teriakan Mia yang cukup histeris di malam itu. Tepatnya pukul 01.30 WIB.
“ AAaaaaa!!!….teriak Mia”
“greek…greekk..greekk… suara tikus di atas atap rumah”
“ Mamaaaaahhhh!!Papaaaa!!!!….help me!!”
Mendengar suara itu mamah dan papah Mia pun terbangun.. mereka segera menghampiri kamar Mia yang berada di pojokan ruang tamu. Mia tak mengetahui suara itu, Ia panik dan ketakutan mendengar suara yang terus-menerus berbunyi dari atas atap kamarnya.
“ada apa Mia! Sahut mamah dari balik pintu”
Kemudian Mia pun membuka pintu sambil menangis seperti orang yang melihat hantu.
“itu mah…itu…ada itu mah diatas…(sambil gemetaran)”
“itu apa Mia? Itu lampu?(tawa mamah)”
“mamah malah ketawa!di atas loh ma…bunyi gitu! Mia takuut mah…takutt pah…(memeluk mamahnya)”
“ah…paling itu suaranya pak Joko penjaga pos ronda…hehehe. Sambung papah “
“loh koq pak joko sich pah?kan hari ini pak Joko bukan giliran yang ngejaga pos di depan. Jawab mamah”
“ohh.. papah lupa jadwal ronda minggu ini mah…(tersenyum)”
“mamah…papah…malahh diskusi! Udah tau Mia lagi ketakutan..”
Kemudian suara itu terdengar lagi…
“greeeekk….greeekkk….kikikikkkk…kikikik…(suara gaduh tikus diatas atap kamar Mia)”
“itu suara apa yah Pah? Tanya mamah penasaran”
“papah juga gak tau! Baru kali ini papah mendengar suara semerdu itu di atap kamar Mia!”
“tuh kan pah suara itu ada lagi! Kita dah lama tinggal dirumah ini. Tapi belum pernah mendengar suara gaduh seperti itu. Jelas Mia”
“mamah juga gak tau sayang!.. mungkin saja itu suara kucing genting Mia.”
“(Mia menarik nafas)”
“sudah sebaiknya kita panggil pak ronda saja kesini, Mah!”
“suara seperti itu juga nanti hilang Pah. Masa sampai di bawa ke pos ronda masalah kecil seperti itu Pah! Jawab mamah tegas”
“loh bagus dong Mah…biar diperiksa tuh.”
“Mia…Mia…kamu pikir pasien apa di periksa…hahaha”
“(papah cenge-ngesan)”
“(Mia tertawa jengkel) mah bukan saatnya becanda..segera kita selesaikan masalah ini.”
“yah…selesaikan dengan kepala dingin.. sambung Papah”
“kepala papah dingin yah?tanya mamah”
“haduh mamah!! Maksud papah secara damai.”
“loh koq damai Pah? Emangnya mau Demo BBM apa? Jawab Mia sambil tertawa”
Suasana malam itu pun penuh dengan dialog tak jelas dari mamah dan papah Mia. Yang membuat Mia jengkel, sehingga Mia meninggalkan kedua orang tuanya di kamar tersebut. Mia pergi tidur dikamar orang tuanya tanpa sepengetahuan Mamah dan papah Mia. Suara itu pun terdengar lagi ketika mereka berdua berdebat adu mulut tak jelas.
“tunggu Pah!”
“iah..”
“papah dengar suara itu?tanya mamah”
“iah..papah pernah dengar suara itu tadi.”
“pah Mia mana??? Mamah panik mencari Mia di sudut kamarnya hingga kebawah kolong tempat tidurnya.”
“tadikan sama mamah di belakang!masa ia mamah makan anak kita.”
“mamah juga merasa seperti itu pah! Tadi Mia ada dibelakang mamah…
“greeekkk….griiikkk…griikkk…kikikikikkk…(suara tikus itu makin gaduh)”
“jangan-jangan mah!”
“jangan-jangan apa pah? mamah ketakutan”
“jangan-jangan Mia di bawa kabur sama mahluk diatas atap itu mah!”
Merekapun saling bepelukan ditempat itu sambil mendengar suara aneh diatas atap itu. Lalu dari luar tedengar suara mengetok-ngetok pintu.
“pah ada yang ngetok pintu dari luar tuh!”
“siapa yah malem-malem gini getok pintu rumah kita mah! Jawab Papah dengan muka takut”
“gak tau Pah… coba dibuka!”
“ahh…mamah saja!papah tunggu di ruang tengah saja!”
“kalo maling gimana Pah?? Ketakutan”
“gak mungkin mau maling ijin dulu Mah.”
“aneh yah pah… suara diatas atap tiba-tiba menghilang. (menatap kearah atap)”
“mungkin sudah capek kali mah…hehehe”
“tok…tok…tok…(suara mengetuk pintu)”
Mereka berduapun kembali terkejut dengan suara dibalik pintu itu. Ada yang mengetuk tapi tak ada yang menyahut. Mendengar suara riuh dari luar rumah, Mia pun terbangun dari kamar papah dan mamahnya. Mia pun langsung membuka pintu kamar orangtuanya dan segera menghampiri suara yang mengetuk itu. Sementara itu dari sudut kamar Mia, Papah dan Mamah Mia hanya memandang Mia dari kejauhan karena mereka ketakutan. Mereka berdua pun bingung dari mana Mia datang. Tanpa sadar papah pun berteriak memanggil Mia. Dan Mia pun terhenti langkahnya untuk membukakan pintu rumahnya itu. Mia pun kembali menghampiri kedua orang tuanya yang masih berdiri tegap di kamarnya.
“ada apa sih pah?? Tanya Mia setengah sadar”
“kamu dari mana nak??”
“dari rumah pah.”
“maksud papah koq bisa muncul dari arah kamar papah?”
“iah lah! Mia dari tadi dikamar papah sama mamah. Itu ada yang ngetuk pintu kenapa gak dibuka pah.”
“jangaaan!!bentak mamah”
“loh kenapa mah? Siapa tau pak Rt mah.”
“kalo maling gimana?bisik mamah ke telinga Mia”
“tokkk…tokk…tok…tok..(suara pintu kembali berbunyi)”
“tuh kan ngetuk lagi tapi tak menyahut Mah!”
“gimana ni pah? Jawab mamah ketakutan”
“buka aja pah! Susah amat…kalo maling yah langsung kita hajar!tegas Mia”
“iah juga yah… kadangg ide kamu bagus Mia!”
“hehehehe..Mia anak papah”
“Mia anak tukang takut… sambung mamah sambil tertawa”
“mamah aja penakut! (melet)”
Mereka pun dengan nekat akhirnya membuka pintu itu. Sebelum melangkahkan kaki kearah pintu itu, mamah papah dan Mia mengambil peralatan yang bisa di gunakan untuk memukul orang tersebut jika orang tersebut adalah maling. Karena yang ada hanya peralatan dapur mau tidak mau mereka harus gunakan.
“tunggu pah!!!”
Langkah Papah dan mamah terhenti
“ada apa lagi sih Mia??? Jawab Papah.”
“suara yang diatas atap itu kenapa tidak ada lagi?”
“tadii papah suruh diam sayang…(tertawa)”
“oohh..”
Sesampainya didepan pintu mereka bertiga masih berdebat pelan untuk membuka pintu ini atau tidak. 2menit berdebat akhirnya mereka membuka pintu rumah ini secara perlahan.
Lalu….
Lalu yang mereka lihat adalah suara getok pintu dari tetangga samping rumahnya yang memiliki kelainan pada suaranya. Alias bisu, hampir saja mereka bertiga memukul tetangganya itu.
“hah?? Pak Bidi! Ucap mereka bertiga dengan keras”
“(pak Bidi hanya menggelengkan kepala)”
“bikin takut saja pak…hehehe”
“ah papah ma emang takut..canda Mia”
“kamu aja takut Mia!!”
Lagi-lagi mereka bertiga berdebat adu mulut dihadapan pak Bidi. Sampai-sampai pak Bidi tidak diijinkan masuk rumah. Tak lama kemudian penjaga pos ronda datang karena melihat di depan pintu pak Tio ramai sekali.
“ada apa ini saudara sekalian setanah air dan selingkungan! Ucap pak Dodi penjaga pos ronda”
“diiiiaaaamm anda!! Jawab mereka bertiga dengan nada keras.”
Mendengar mereka bercekcok pak Bidi hanya menggelengkan kepala dan berusaha berbahasa tubuh untuk memberi tau apa yang dibutuhkan pak Bidi kepada pak Dodi. Pak Dodi tak mengerti maksud pak Bidi itu apa, ia kewalahan sampai pada akhirnya pak Dodi teriiak.
“Tiiiddaakk!!! Teriak pak Dodi”
Mia dan kedua orang tuanya spontan diam dan terhenti berucap.
“Tidakkk apa pak? Tanya Mia pada pak Dodi”
“Tidakkk pahamm saya…”
“hahahahah (tawa pak Tio)”
“Tanya pada rumput samping rumah saya kalau tak paham pak Dodi. Ucap mamah melucu”
Kami pun serempak tertawa terbahak-bahak.
“kalian memang keluarga aneh! Sebentar berdebat, sebentar tertawa!”
“yang aneh kan Pak Bidi, pak Dodi (Mamah tertawa kecil)”
“sudah-sudah…dari tadi pak Bidi memanggil kita tuh Pah! Jawab Mia santai”
“memanggil?? Mana suaranya Mia? Jawab papah melucu lagi”
(mamah dan Mia kembali tertawa)
Pak Bidi pun berusaha berbahasa tubuh pada pak Tio, hanya Pak Tio yang mengerti maksud pak Bidi itu apa. Perlahan suasana malam itu kembali sunyi karena lantunan tanpa suara dari tubuh pak Bidi.
“papah ngerti emang mah?bisik Mia pada mamah”
“ngerti Mia. Dulu teman papahmu hampir semua sama seperti pak Bidi”
“waahh…mia terkagum”
“apa katanya Pak? Tanya pak Dodi”
“katanya lampu rumahnya mati, dan kita disuruh membantunya. Tegas papah Mia”
“lampu mati saja menjelaskannya panjang sekali..”
“saya suruh dy mengulang lagi tadi pak Dodi…hehehe”
“dasarr papah! Hobbynya ngerjain orang! Sambung mamah bicara”
“ah…mamah…dulu juga papah sering kerjain suka tuh…”
Kali ini mamah dan papah Mia kembali berdebat tentang masalah cintanya dulu, hingga membuat Mia, Pak Dodi dan Pak Bidi kembali menunggu. Tanpa berpikir panjang pak Dodi dan Mia lah yang membantu Pak Bidi, mereka bertiga pergi meninggalkan kedua orang itu. Sesampainya dirumah Pak Bidi yang hanya beda 1 rumah dari rumah Mia, mereka pun bergegas membantu Pak Bidi. Ternyata meteran pak Bidi turun, sehingga membuat lampu rumah nya pak Bidi padam semua.
“hadauuhh…ini aja sampai datang kerumah saya Pak.”
“kan Bapak ini melihat lampu kamu nyala Mia, makanya Bapak ini menghampiri rumahmu. Jelas Pak Dodi”
“iiah sich! Tapi kan tetangganya yang lebih dekat ini juga lampunya menyala pak!”
“yah mungkin karena pak Bidi lebih akrab dengan bapakmu..hehehe”
Selesainya pak Bidi pun mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua. Mia dan pak Dodi pun segera beranjak dari tempat pak Bidi menuju rumah Mia. Dari 1 rumah sebelum rumah Mia, mamah dan Papah Mia tampak masiih berdebat. Kali ini mereka adu mulut soal anak.
“mamah…papah…”
“mamamahhh!papapah! teriiak Mia”
Mereka berdua pun terdiam.
“ ada apa sayang? Jawab Mia”
“yuk masuk rumah! Udah mau pagi ini. Gak enak nanti dilihat tetangga lainnya”
Mendengar Mia berbicara akhirnya mereka masuk rumah dan berpamitan kepada pak Dodi selaku penjaga Ronda saat itu.
Tidak ada satu jam pun pagi sudah datang menyambut dari kejauhan. Keluarga pak Tio pun bangun dengan mata masih tertutup tipis dan jalan pun masih lesu. Pagi itu mereka kembali menjalankan tugas masing-masing, mamah Mia memasak dirumah, Pak Tio pergi kekantor dan Mia berangkat kekampus.
“uhh…masih ngantuk mata Mia, mah….”
“papah juga…”
“mamah juga…”
“semuanya berawal dari suara aneh itu pah! Lalu menyambung ke suara pintu rumah. Dan ternyata yang mengetuk adalah pak Bidi”
“iiah sayang…jawab papah”
“suara gaduh itu kenapa gak bunyi lagi yah Mia? Tanya Mamah”
“gak tau Mah…bagus lah kalo gak bunyi lagi!”
“nanti suruh orang periksa atap kamar Mia, mah!”
“siapa yang kita suruh pah?…”
“mamah carilah siapa..papah kan kerja”
“iiah nanti mamah cari pah!”
Selesainya sarapan pagi mereka pun pergi beraktivitas sesuai dengan aktivitas mereka. Sementara papah dan Mia pergi, mamah segera mencari orang tuk memeriksa atap rumah itu. Satu jam mencari, akhirnya mamah pun menemukan orang itu. Sebut saja namanya Pak Joni! Seorang yang berkerja dibidang reparasi rumah. Mamah pun menyuruh pak Joni kerumahnya nanti sore.
Sorepun tiba..
Mia dan papah sudah pulang dan tiba dirumah secara bersamaan, setelah beberapa menit pak Joni pun tiba didepan pintu rumah keluarga pak Tio. Dan Miapun membukakan pintu rumahnya itu dan menyuruh pak joni masuk.
“ayo silahkan masuk pak. Ucap Mia dengan ramah”
Pak joni pun duduk di sova ruang tamu, dari sebelah kanan datanglah papah Mia yang baru saja selesai mandi.
“Tio (sambil berjabat tangan dengan pak Joni)”
“Joni”
“bapak yang dipanggil isteri saya untuk memeriksa atap rumah kamar anak saya?”
“ohh…tentu saja pak”
“maaf..sebelumnya status bapak apa ya?”
“ohh…saya single pak..hehehe masih 26 tahun pak”
“maksud saya pekerjaan anda.”
“ohh…saya seorang reparasi rumah pak di gang Delphia”
“ohh…kira” berapa lama ya mas?”
“baru 2 tahun lamanya saya menetap di gang Delphia pak!hehehe”
“bukan itu, mas. Maksud saya periksa itu atap rumah kamar anak saya berapa lama.(jengkel)”
“ohh…itu gak perlu waktu lama pak! Paling 2-3jam selesai”
“buseet…lama amat. Periksa orang aja Cuma 10 menit paling lama! Ini kan Cuma ngecek aja mas! Sambung mamah sambil membawa 2gelas minuman dingin”
“kebetulan bu, saya lagi haus…hehehe”
“mamah gak salah nyari orangkan? Bisik papah ”
“enggak kok pah…”
“ngomong-ngomong saya bisa lihat lokasi kamar putri bapak?”
“ohh…iah saya antar kan!”
Pak Tio pun mengantarkan Pak Joni menuju kamar Mia. Kebetulan saat itu Mia sedang bermain ditaman bersama kucing peliharaannya.
“dimana suara itu terdengar pak? Tanya Joni”
“diatas atap bagian sana mas..(sambil menunjuk atap kamar Mia sebelah sudut kiri)”
Bergegas lah pak Joni memeriksa atap rumah kamar Mia tersebut.. setelah beberapa menit mencari sumber tersebut ketemulah suara itu dan ternyata itu adalah suara gaduh tikus nakal yang membuat pak Tio dan sekeluarga panik semalam hingga tak bisa tidur karena ketakutan.
“bagaimana mungkin tikus ada diatas atap! Teriak pak Tio dari bawah atap”
“bisa saja pak! Didunia ini apa sih yang gak mungkin. Suara bapak saja bisa koq ditaruh diatas atap ini. Teriak pak Joni dari atas atap”
“lalu bagaimana cara membuat pergi tikus itu mas?”
“gampang pak!! Pelihara saja kucing diatas atap rumah bapak, jadi aman kan?”
“betul juga yah, dengan begitu tikus itu akan lari ketakutan dan keluar dari atap rumah saya!”
“yah…lalu bapak punya kucing?”
“saya punya isteri saya aja mas!”
“(tertawa dari atas atap rumah) kalo begitu isteri bapak saja letakkan diatas atap ini!hehehe”
“nanti saya tidur sama siapa mas?”
“cari lagi…(ketawa)”
“benar juga yah,,, isteri saya kan cerewet jadi mending ditaruh diatas atap rumah Mita saja ( bicara sendiri )”
Lalu tak disangka mamahpun mendengar gumelan suaminya itu dan menjewer suaminya itu.
“bagaimana mau tak pak! Ucap joni masih dari atas atap”
“bagaimana!bagaimana!bagaimana kepalamu! Jawab mamah dari bawah “
“hahahaha….”
“pah bagaimana kalo kucing Mia kita letakkan diatas atapnya? Tanya mamah”
“hmmm…tanya Mia dulu mah”
Mamah pun menghampiri Mia yang masih asyik mengelus-elus bulu kucing kesayangannya itu.
“Mia…”
“iiah mah?”
“mamah bisa pinjam kucing mu?”
“buat apa mah?”
“buat diletakkan diatas atap rumah sayang.”
“loh??kenapa enggak ditangkep aja mah?”
“masalahnya banyak sayangg,,, nanti setelah 2 hari hewan itu gak muncul baru Pussi kembali ke kandangnya lagi”
“memangnya hewan apa mah?”
“kingkong sayang!”
“hah? “
“yah tikuslah Mia sayang! Nanti Pussi kan bisa makan itu tikus “
“loh kalo Pussi sakit makan tikus bagaimana mah?”
“mana mungkin sakit! Kucingkan suka tikus sayang.”
“ ahh siapa bilang! Itu buktinya ada kucing yang makanannya cewe seksi!”
“itu mah kucing garong sayang!”
“benar Pussi gak akan kenapa-napa mah?”
“ benar sayang! Percaya sama mas Joni tuh.”
“loh koq mas Joni mah? Kan mamah yang suruh!”
“bukan mamah tapi tukang reparasi itu!”
Setelah cukup lama berbicara akhirnya Mia mengijinkan kucingnya diletakkan diatas atap rumah selama 2 hari lamanya.
“lama amat ijinnya mah!”
“hehehe, si Mia bacot pah.”
“ada kucingnya pak?”
“ada mas…”
Pak Tio pun memberikan kucing itu pada Pak Joni dan meletakkannya selama 2 hari lamanya di atas atap rumah Mia. Setelah menyelesaikan tugas tersebut Pak Joni pun segera turun.
“terimakasih loh mas sudah mau menbantu saya.”
“iiah sama-sama pak!”
“saya boleh mintak segelas air dingin bu?”
“ohh boleh, anda duduk saja di ruang tamu bersama suami saya.”
Selesai bercakap-cakap dengan tukang reparasi rumah itu akhirnya pamitlah pak Joni. Dan sekarang atap kamar Mia tidak adalagi suara gaduh dari tikus nakal tersebut serta suara aneh dari tikus nakal diluar sana seperti pak Bidi dan Pak Dodi namun yang ada hanya perdebatan antara Mamah dan Papah serta Mia. Rumah pun kembali nyaman dan tenang, Mia dan keluargapun kembali tidur dengan nyenyak. Sementara kucingnya Pussi malah kekenyangan kabanyakan memakan tikus di atap kamar rumah Mia tersebut.


by : wenny srivera

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar