welcome


Rabu, 28 Desember 2011

BAB VI ( Hak warga Negara untuk mendapatkan pendidikan )


Hak warga Negara untuk mendapatkan pendidikan

                Belakangan ini pendidikan sangat diperlukan untuk masa depan anak bangsa. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menempuh bangku sekolah hingga Sembilan tahun. Pendidikan adalah bagian dari suatu hak warga Negara, mereka membutuhkan pendidikan agar suatu saat nanti tidak mudah terpengaruhi oleh warga Negara lain. Di berikannya pendidikan pada mereka supaya mereka bias membaca dan berhitung.
                Pendidikan di Indonesia sudah cukup dibilang bagus, karena adanya tunjangan dana BOS dari pemerintah untuk sekolah-sekolah yang membutuhkan. Dana BOS tersebut di berikan bagi siswa SD sampai dengan SMA. Tunjangan dana BOS tersebut bermanfaat sebagai :
1.       Untuk membantu anak – anak sekolah yang kurang mampu
2.       Meringankan beban orang tua dalam biaya sekolah
3.       Digunakan untuk membeli alat – alat infrastruktur sekolah
4.       Di gunakan untuk kegiatan lain seperti kegiatan ekstrakulikuler siswa


Seorang anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk kelangsungan hidupnya kelak.
agar anak tersebut memiliki masa depan untuk mencapai suatu kesuksesan dalam dirinya.
Undang – undang yang mengatur adanya hak untuk mendapatkan pendidikan adalah sebagai berikut :
Pertama, Pasal 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak: ”Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.”

Kedua, Pasal 49 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak: ”Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada anak untuk memperoleh pendidikan.”
Ketiga, Pasal 28C ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut: ”Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”




Selain pendidikan warga Negara juga mempunyai hak dan kewajiban lain sebagai berikut :

A.    Contoh Hak Warga Negara Indonesia
  1. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum
  2. Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
  3. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan
  4. Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing yang dipercayai
  5. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
  6. Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia atau nkri dari serangan musuh
  7. Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku
B. Contoh Kewajiban Warga Negara Indonesia
  1. Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh
  2. Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda)
  3. Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya
  4. Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku di wilayah negara indonesia
  5. Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik.

BAB V ( Masalah Gizi Merupakan Dampak Bagi Kesejahteraan Masyarakat )


Masalah Gizi Merupakan Dampak Bagi Kesejahteraan Masyarakat

Masalah pemenuhan gizi sekarang mulai menjadi masalah besar bagi kesejahteraan pada masyarakat kalangan bawah. Pemenuhan bahan makanan bagi masyarakat kalangan kecil atau bawah sangatlah rendah. Banyak di antara mereka yang belum terpenuhi sandang, pangan bahkan papn untuk kesejahteraan hidup mereka. Hal ini timbul karena adanya perbedaan derajat antara masyarakat kalangan atas dengan masyarakat kalangan bawah. Selain itu pembangunan nasional sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena pembangunan nasional sangat erat kaitannya dengan pembangunan social budaya dan ekonomi yang sangat nyata. Sebagai contoh, tingkat pendidikan dan tingkat
pendapatan masyarakat yang meningkat akan diikuti oleh semakin meningkatnya
derajat kesehatan masyarakat. Sebaliknya, peningkatan derajat kesehatan dapat
meningkatkan tingkat kecerdasan dan tingkat pendapatan masyarakat.
Sehingga banyak tuntutan yang harus dipenuhi dalam era industri ini lebih besar bila
dibandingkan tuntutan pada era sebelumnya. Untuk memenuhi tuntutan tersebut,
sudah saatnya lah untuk lebih memusatkan perhatian pada upaya peningkatan
kualitas sumber daya manusia dalam kaitannya meningkatkan produktifitas kerja
dan salah satu upaya yang cukup mendasar adalah upaya peningkatan gizi pekerja.
Dengan meningkatkan gizi pekerja diharapkan daya tahan tubuh mereka akan
meningkat dan sebagai konsekwensinya akan meningkat pulalah produktifitas
kerjanya.
Gizi dan permasalahannya bagi masyarakat.

Berbicara masalah gizi, kita tidak terlepas dari pembahasan mengenai zat-zat
makanan atau nutrisi yang masuk kedalam tubuh. Makanan yang bergizi adalah
makanan yang mengandung zat-zat nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh agar tubuh
dapat melakukan fungsi-fungsinya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain
zat gizi sangat diperlukan oleh tubuh untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan dan
pemeliharaan tubuh beserta semua fungsinya.
Kebutuhan akan zat-zat ini berbeda-beda dan perbedaan ini tergantung dari umur,
jenis kelamin, jenis pekerjaan ataupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Pada
wanita dewasa, kalori yang dibutuhkan berkisar antara 1.600 -2000 kilokalori,
sedangkan pria dewasa membutuhkan sekitar 2.500 -3.000 kilokalori setiap harinya.
Secara umum pengaruh gizi pada manusia sangatlah kompleks, antara lain dapat
berpengaruh terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas dan
kesanggupan kerja yang mana kesemua ini sangatlah erat hubungannya dengan
perbaikan atau peningkatan pendapatan masyarakat.

Dengan demikian agar dapat melakukan kerja seoptimal mungkin sangatlah perlu diperhatikan kualitas makanan yang dimakan, hendaknyalah memakan makanan yang cukup mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh atau makanan yang berimbang (balanced diet).



Banyak masalah-masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat tidak adanya
keseimbangan gizi yang lebih dikenal sebagai akibat gizi salah. Gizi salah yang
diderita pada masa janin (dalam kandungan) dan masa anak-anak dapat
menghambat antara lain kecerdasan, motivasi, kesanggupan belajar. Selain itu, ada
dugaan bahwa gizi salah yang diderita pada masa janin dapat menimbulkan kelainan
kromosoma yang bisa berakibatkan pada perilaku abnormal ataupun kelainankelainan
yang akan bertahan selama hidup. Masalah lain yang dapat diakibatkan oleh
gizi salah ini adalah gangguan perkembangan Fisik.

Di Indonesia, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BPS melalui modul SUSENAS
tahun 1986, 1987, dan 1989 serta hasil survai Vitamin A tahun 1978 menunjukkan
adanya penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk yang cukup bermakna. Pada
tahun 1978 prevalensi gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia sebesar 15,9% yang
kemudian menurun hingga 10,5% pada tahun 1989. Demikian pula prevalensi
Kurang Energi Protein (KEP) berat juga mengalami penurunan dari 3% menjadi 1,4%
dalam kurun waktu yang sama. Sehingga banyak masyarakat yang terkena penyakit akibat kekurangan gizi.

Secara umum, permasalahan gizi dan pangan dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain faktor demografi seperti pertambahan jumlah penduduk, laju
pertumbuhan penduduk yang tinggi, besarnya proporsi penduduk usia muda,
penyebaran penduduk yang tidak merata, perubahan susunan penduduk, faktor
sosial ekonomi dimana terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat,
meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi yang secara baik langsung berpengaruh
pada pendapatan keluarga dan adanya perbedaan derajat kehidupan masyarakatnya. Selain itu, faktor lain yang berpengaruh pada masalah gizi dan pangan adalah perkembangan IPTEK dimana terjadinya arus moderenisasi yang membawa banyak perubahan pada pola hidup masyarakat termasuk pada pola makannya.

Derajat kesehatan yang baik mempunyai dampak positif yang langsung terhadap
laju pembangunan. Rakyat yang semakin sehat, bukan hanya merupakan tujuan
tetapi juga sarana agar laju pembangunan dapat dipercepat. Derajat kesehatan yang
makin baik akan meningkat produktifitas tenaga kerja yang baik pula.
Untuk mengatasi masalah gizi tersebut juga butuh perhatian dari pemerintah setempat untuk lebih memperhatikan kehidupan masyarakat yang kekurangan gizi. Serta menyelenggarakan program sumbangsih pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat kalangan bawah.

BAB IV ( Pemuda sosialisasi dan permasalahannya )


Pemuda sosialisasi


Pemuda adalah generasi penerus dari generasi terdahulu. Generasi penerus ini harus bisa jadi yang terbaik ke depan nanti. Proses kehidupan yang mulai di alami oleh para pemuda Indonesia biasa di lakukan di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.

Sementara sosialisai bisa diartikan sebagai proses seumur hidup yang mempelajari kebiasaan hidup, nilai dan norma sosial yang terdapat dalam masyarakat.
Jadi pemuda sosialisasi dapat diartikan sebagai generasi penerus yang melalui proses interaksi untuk menemukan jati dirinya sendiri dengan orang lain di sekitarnya.

Dalam melakukan proses sosialisasi tersebut para pemuda membutuhkan adanya bimbingan belajar terhadap masalah yang akan mereka hadapi di luar nanti, baik itu masalah dalam keluarga maupun masalah sosial dalam masyarakat serta mampu menyikapi masalah tersebut.

Para pemuda saat ini banyak mengalami masalah, sebagai contoh adalah masalah dalam pergaulan di dunia luar . Banyak pemuda yang akhirnya harus merasakan masa hidupnya di dalam penjara akibat pergaulan bebas yang salah, memakai narkoba, dan mencuri untuk kebutuhan makan mereka.

Biasanya perilaku ini terjadi akibat kurangnya perhatian dari keluarga dan sosialisasi antar keluarga yang kurang terhadap pemuda saat ini. Mereka mencuri karena kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap kehidupan mereka.

Seharusnya pemerintah tidak usah lagi membuat gedung-gedung mewah yang tidak terlalu berguna, karena kehidupan masyarakat kecil lebihkah penting.

Pembelajaran yang positif pun berguna untuk mengarahkan mereka tentang bahaya bersosialisasi yang buruk di luar. Pembelajaran ini dapat di berikan melalui sekolah ataupun tempat mereka les.

Pemuda dan permasalahannya

Pemuda tidak lepas dari masalah yang di hadapinya di luar lingkungannya, banyak masalah negative yang selalu mendatangi mereka. Apabila tidak adanya pengawasan dari orang tua pemuda-pemuda tersebut bisa saja terjerumus kedalam permasalahan tersebut.
Salah satu contoh yang saya ambil adalah Narkoba, narkoba adalah suatu obat-obatan yang mengandung bahan psikotropika dan bahan-bahan berbahaya lainnya. Saat ini narkoba sudah banyak beredar luas dikalangan pemuda remaja bahkan anak sekolah SD pun sudah banyak yang menggunakannya.
Mereka menggunakan obat-obatan tersebut mungkin karena penasaran hingga akhirnya menimbulkan rasa ketagihan. Akibat masalah tersebut tidak sedikitnya para pemuda kita tertangkap memakai narkoba dan tertangkap mengedarkannya. Selain narkoba mereka pun mulai terjerumus pada pergaulan bebas anak kota. Pergaulan bebas muncul akibat kurangnya perhatian dari orang tua terhadap anaknya, sehingga mereka kerap kali bosan berada dirumah. Pergaulan bebas yang terjadi pada kalangan pemuda sudah banyak dampaknya, contohnya ada yang hamil diluar nikah, terserang HIV dan masih banyak masalah yang ditimbulkan akibat pergaulan bebas tersebut.

Selain masalah diluar lingkungan ada pula masalah yang terjadi di dalam rumah yaitu seperti brokenhome. Brokenhome timbul akibat kurangnya perhatian atau kasih sayang yang mengakibatkan mereka tertekan , belum lagi percekcokan antara mamah dan papah akibat masalah pekerjaan, kurangnya kebersamaan dalam keluarga. Hal tersebut mempengaruhi hubungan keluarga dengan anak sehingga muncul lah kasus perceraian yang melibatkan seorang anak untuk memilih.

Masalah – masalah yang di hadapi para pemuda di Indonesia tersebut adalah masalah sebagian kecil yang kerap kali terjadi tiap tahunnya. Dan mungkin pengawasan dari keluarga dan perhatian dari keluarga sangat diperlukan untuk proses sosialisasi mereka di dunia luar.

BAB III ( Keterkaitan Individu, Keluarga , dan Masyarakat )


Keterkaitan Individu, Keluarga , dan Masyarakat

keluarga sebagai perantara sosialisasi primer, adalah sosialisasi yang pertama kali terjadi di individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat. Sosialisasi primer dalam keluarga berlangsung saat anak tersebut berusia 1-5 tahun atau semasa anak tersebut belum masuk sekolah.

Anak mulai mengenal anggota keluarga, masyarakat, dan lingkungan keluarga pada saat ia tumbuh dewasa nanti. Dimana ia bisa menemukan jati dirinya sendiri dalam keluarga tersebut.

Setelah seorang anak mulai mengenal anggota keluarganya, barulah ia mulai bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungannya biasa disebut dengan sosialisasi sekunder yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok masyarakakat, salah satunya adalah bentuk resosialisasi dan desosialisasi. Salah satu masalah yang dihadapi dalam keluarga adalah munculnya perbedaan pendapat antara keluarga, yang mengakibatkan permasalahan kecil pada keluarga tersebut.

Pengenalan individu terhadap masyarakat di perlukan agar mereka tidak canggung lagi dalam berinteraksi dan saling bertukar pikiran. Dalam proses sosialisasi ini perlu adanya pengawasan dari anggota keluarga terhadap individu itu sendiri, agar mereka tidak salah bergaul.

Dalam proses resosialisasi, seseorang di beri suatu identitas yang baru, sedangkan desosialisasi adalah proses dimana seseorang mulai mengalami “ pencabutan ”
identitas diri yang lama.

Resosialisasi dan desosialisasi sangat erat kaitannya untuk membentuk suatu individu baru yang bisa secara universal dapat berinteraksi atau bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan keluarga dan lngkungan masyarakat.

Jadi perlunya sosialisasi individu, terhadap keluarga dan masyarakat sangat penting dan terikat. Agar mereka bisa berinteraksi dengan baik dan menemukan jati diri mereka seperti apa.

Keluarga yang baik adalah keluarga yang hidup dengan penuh kasih sayang dalam satu lingkungan yaitu lingkungan kelurga, yang dapat mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam permasalahan keluarga.


Individu, keluarga dan masyarakat tidak pernah lepas dari proses sosialisasi. Ini adalah awal di mana mereka dapat berinteraksi secara terus menerus dalam suatu lingkungan hidup.

Selasa, 27 Desember 2011

BAB II ( Kepadatan Penduduk di Indonesia )

Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan

penduduk adalah orang-orang yang berada di dalam suatu wilayah yang terikat oleh aturan-aturan atau norma yang berlaku, penduduk juga dapat diartikan sebagi orang-orang yang sering berinteraksi satu sama lain secara terus menerus.



Kepadatan Penduduk di Indonesia

kepadatan yang terjadi di Indonesia, di karenakan adanya faktor kelahiran dan faktor penikahan di usia muda. Kepadatan penduduk di Indonesia mencapai jutaan jiwa, kepadatan penduduk terjadi di Indonesia tidak seimbang dengan yang akan mereka jalani. Banyak negara-negara kecil yang jumlah penduduknya lebih besar dibandingkan dengan lapangan pekerjaannya, sehingga akibatnya banyak negara yang penduduknya mengalami kemiskinan.

Masalah sosial ini yang menyebabkan permasalahan bagi Negara. Setiap bulannya jutaan Ibu melahirkan, jutaan orang datang dan pergi dari suatu tempat ke tempat lain. Untuk mengatasi masalah sosial tersebut pemerintah mengadakan program KB (Keluarga Berencana) dua anak cukup.



Pengaruh Kebudayaan Asing terhadap Masyarakat

kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Kebudayaan Asing mulai masuk ke Indonesia sejak zaman penjajahan , pengaruh kebudayaan asing berdampak pada arus globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, dan sosial budaya.
Budaya asing masuk ke Indonesia juga membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan generasi muda saat ini, karena tidak semua budaya asing membawa dampak positif bagi masyarakat dan generasi muda. Untuk itu kita sebagai masyarakat Indonesia dan para generasi muda harus dapat memilah-milah budaya asing yang masuk ke Indonesia. 

kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia sangat berpengaruh juga pada perkembangan masyarakat sekitar. karena semakin banyak pengaruh budaya asing seperti cara berpakaian orang-orang asing berdampak pada cara berpakaian orang Indonesia yang seharusnya dilarang seperti itu. Selain itu kebudayaan Indonesia pun mereka lupakan karena sudah ketinggalan zaman. Untuk itu perlu evaluasi dari masyarakat dalam mengikuti perkembangan globalisasi baik budaya maupun sosial.


Selain itu masyarakat Indonesia juga harus mampu menyikapi pengaruh kebudayaan asing yang masuk, dengan menanggulanginya, agar jati diri kita sebagai masyarakat Indonesia tidak rusak akibat kebudayaan asing tersebut.

Banyaknya tindak kejahatan yang terjadi saat ini juga tidak lepas dari budaya asing yang masuk ke Indonesia. Tindak kriminal, narkoba, tawuran, pemerkosaan, pergaulan bebas yang terjadi karena masyarakat mudah meniru kebudayaan asing tersebut, menurut mereka hal ini sudah tidak tabu lagi untuk di ikuti .

Dari masalah ini semua yang mendasarinya adalah adanya arus globalisasi yang tidak dapat di bendung lagi.

BAB IX ( Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan )


Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan

 Ilmu pengetahuan lazim digunakan  dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari dua kata, “ ilmu “ dan “ pengetahuan “, yang masing-masing punya identities sendiri-sendiri. Pengertian  “ ilmu “ selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis, empiris, umum dan akumulatif. Pengertian “pengetahuan” sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi.

Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu ; ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Epistemologis hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh ilmu pengetahuan. Ontologis dapat diartikan hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas  ruang lingkup ujud yang menajdi objek penelaahannya. Komponen aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan. Langkah-langkah dalam memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan. Dimulai dengan pengamatan, yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan untuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analitis, sistesis, induktif dan deduktif. Yang terakhir ialah pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan pengingkaran.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah yang meliputi empat hal yaitu :
1.    Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
2.    Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3.    Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
4.    Merasa pasti bahwa setiap  pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.


Teknologi

Teknologi memperlihatkan fenomenanya alam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Teknologi yang berkembang denan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Luasnya bidang teknik digambarkan sebagaia berikut :
1.    Teknik meluputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri.
2.    Teknik meliputi bidang organisasional seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum dan militer
3.    Teknik meliputi bidang manusiawi. Teknik telah menguasai seluruh sector kehidupan manusia, manusia semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik.

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.

Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Garis kemiskinan yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1.    Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2.    Posisi  manusia dalam lingkungan sekitar
3.    Kebutuhan objectif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, adat istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki

           


BAB VIII ( PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME )


PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME
Hidup bermasyarakat berarti kehidupan dinamis dimana setiap anggota satu dan lainnya harus saling memberi dan menerima. Anggota memberi karena ia patut untuk memberi dan anggota penerima karena ia patut untu menerima. Ikatan berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuatnya bersama diantara para anggotanya menjadikan alat pengontrol agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu. Rasa solider, toleransi, tenggang rasa, tepa selira sebagai bukti kuatnya ikatan itu.


Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka atau prejudice berasal dari kata latian prejudicium, yang pengertiannya sekarang mengalami perkembangan sebagia berikut :
a.    semula diartikan sebagai suatu presenden, artinya keputusan diambil atas dasar pengalaman yang lalu
b.    dalam bahas Inggris mengandung arti pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yagn cermat, tergesa-gesa atau tidak matang
c.    untuk mengatakan prasangka dipersyaratkan pelibatan unsur-unsur emosilan (suka atau tidak suka) dalam keputusan yang telah diambil tersebut
 Prasangka (prejudice) diaratikan suatu anggapan terhadap sesuatu dari seseorang bahwa sesuatu itu buruk dengan tanpa kritik terlebih dahulu. Prasangka menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Prasangka ini sebagian bear sifatnya apriori, mendahului pengalaman sendiri (tidak berdasarkan pengalaman sendiri), karena merupakan hasil peniruan atau pengoperan langsung pola orang lain. Prasangka bisa diartikan suatu sikap yang telampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah, dan dibarengi proses simplifikasi (terlalu menyederhanakan) terhadap sesuatu realita. Prasangka bersumber dari suatu sikap. Diskriminasi menunjukkan pada suatu tindakan. Dalam pergaulan sehari-hari sikap prasangka dan diskriminasi seolah-olah menyatu, tak dapat dipisahkan. Seseorang yagn mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya. Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi :
1.    berlatar belakang sejarah
2.    dilatar-belakangi  oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
3.    bersumber dari factor kepribadian
4.    berlatang belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama

Usaha-usaha mengurangi/menghilangkan prasangka dan diskriminai
1.    Perbaikan kondisi sosial ekonomi
2.    Perluasan kesempatan belajar
3.    Sikap terbuka dan sikap lapang

Etnosentrisme yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan diepergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.

SIKAP DAN PRASANGKA
Karena prasangka itu suatu sikap, yaitu sikap sosial, maka terlebih dahulu sikap perlu dirumuskan.
Karena berbeda dengan pengetahuan (knowledge), dalam sikap terkandung suatu penilaian emosional yangdapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta, benci, dan sebagainya. Karena dalam sikap ada ”suatu kecenderungan berespon”. maka seseroang mempunya isikap yang umumnya mengetahui perilaku atau tindakan apa yang akan dilakukan bila bertemu dengan obyeknya. Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan, bahwa sikap mempunyai komponen-komponen, yaitu :
a.    kognitif : artinya memiliki pengetahuan mengenai objek sikapnya terlepas pengetahuan itu benar atau salah
b.    Afektif: artinya dalam bersikap akan selalu mempunyai evaluasi emosinal (setuju-tidak setuju) mengenai objeknya
c.    Konatif: artinya kecenderungan bertingkah laku bila bertemu dengan objek sikapnya, mulai dari bentuk yang positif (tindakan sosialisasi) samapai pada yang aktif (tindakan menyerang)


Pertentangan-pertentangan sosial / ketegangan dalam masyarakat
Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri-ciri dari situasi konflik yaitu :
1.    Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat di dalam konflik
2.    Unti-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan,  masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasan
3.    Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan  suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi paa lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai kepada lingkungan yang luas yaitu masyarakat. Adapun cara-cara pemecahan konflik tersebut adalah :
1.    elimination
2.    Subjugation atau domination
3.    Mjority Rule
4.    Minority Consent
5.    Compromise
6.    Integration