welcome


Tampilkan postingan dengan label Tulisan Teori Organisasi Umum 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Teori Organisasi Umum 1. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2012

Komunikasi Dalam Organisasi I


KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

Pengertian dan Proses Komunikasi

Istilah komunikasi (Bahasa Inggris: communication) mempunyai banyak arti. Menurut asal katanya (etimologi), istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, yaitu communis, yang berarti sama (common). Jadi menurut asal katanya, komunikasi berarti menyebarkan atau memberitahukan informasi kepada pihak lain guna mendapatkan pengertian yang sama.

Wexley and Yukl antara lain mengatakan: "Communication can be defined as the tranmission of information between two or more persons". Artinya: "Komunikasi dapat diberikan definisi sebagai pengiriman informasi antara dua orang atau lebih".

Sedang Mc. Farland memberi definisi sebagai berikut, "Coomunication may bedefined as the process of meaningful interaction among human being". Komunikasi dapat didefinisikan sebagai interaksi atau proses hubungan saling pengertian antar manusia.

Elliot Jaques memberikan definisi sebagai berikut, "Communication is the sumtotal of directly and indirectly conscously and unconscously transmitted feeling, ettitudes, and wishes." Artinya kurang lebih sebagai berikut, "Komu­nikasi adalah penyampaian berbagai macam perasaan, sikap dan kehendak, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara sadar maupun tidak sadar."

Proses komunikasi merupakan rangkaian dari langkah-langkah atau tahap-tahap yang harus dilalui dalam pengiriman informasi.

Komunikasi Dalam Organisasi III ( Respon atau Tanggapan Oleh Pihak Komunikan)



                  Respon atau tanggapan yang diberikan oleh pihak komunikan dibedakan menjadi 6 macam, yaitu: 

a) Respon langsung, ialah respon yang diberikan langsung oleh pihak komunikan tidak memerlukan
    jangka waktu yang relatif lama.

b) Respon tidak langsung, ialah respon yang memerlukan jangka waktu. Dalam hal ini respon yang
    diberikan oleh pihak komu­nikan tertunda beberapa saat.

c) Respon yang kurang dimengerti, ialah respon yang tidak dapat dimengerti oleh pihak komunikator.

d) Respon yang dapat dimengerti, ialah respon yang diberikan oleh pihak komunikan dapat
    dimengerti oleh pihak komunikator sehingga antara pihak komunikator dengan pihak komunikan 
    terdapat saling pengertian.

e)  Respon yang bersifat netral, ialah respon pihak komunikan yang tidak memberikan dukungan
     ataupun menentangnya.

f)  Respon yang bersifat negatif, ialah respon yang diberikan oleh pihak komunikan tidak
    memberikan dukungan kepada pihak komunikator.

Agar komunikan dapat memberikan respon seperti yang diharapkan oleh komunikator, komunikator dan komunikan harus mempunyai penga­laman yang sama (common experience).

Umpan balik atau feedback akan selalu berhubungan dengan setiap tahap proses komunikasi. Dengan demikian pola atau model proses komu­nikasi dapat digambarkan seperti Gambar 6.1.




Gambar 6.1: Model proses komunikasi




Pembahasan selanjutnya silahkan klik di sini

Sumber : Wursanto, Dasar 3 Ilmu Organisasi

Komunikasi Dalam Organisasi II ( Rangkaian Model Komunikasi )


Adapun rangkaian model proses komunikasi adalah melalui tahap-tahap sebagai berikut :

1)      Tahap penciptaan gagasan (tahap ideasi) yang dilakukan oleh pihak pengirim informasi (kommunikator = communicator).

2)      Tahap penyusunan gagasan dalam bentuk simbol atau tanda-tanda sandi (tahap encoding). Simbol atau tanda-tanda sandi dapat berupa gambar-gambar yang mengandung arti, kata-kata (lisan maupun ter­tulis), gerakan atau tindakan dengan mempergunakan bahasa badan (body language).

3)      Tahap pengiriman (transmitting). Gagasan yang telah disusun dalam
bentuk simbol-simbol atau tanda-tanda sandi disampaikan melalui
saluran atau media komunikasi yang telah disediakan oleh organisasi yang bersangkutan.
Media yang dipergunakan ada bermacam-macam, dapat dalam bentuk lisan maupun tertulis. Media komunikasi lisan dapat dibedakan menjadi media komunikasi lisan secara langsung dan media komunikasi lisan secara tidak langsung. Komunikasi lisan langsung adalah komunikasi yang tidak dipisahkan oleh jarak. Media yang dipergunakan misalnya rapat, wawancara, konferensi, ceramah dan sebagainya. Jadi komunikasi lisan langsung adalah komunikasi tatap muka (face to face communication). Komunikasi lisan tidak langsung adalah komunikasi lisan yang dipisahkan oleh jarak. Media yang dipergunakan, misalnya telepon, interphone/interkom. Sedang media komunikasi tertulis, misalnya melalui surat (surat dinas, memo), pengumuman, poster, buku petunjuk, laporan (bulanan, tahunan) dan sebagainya.

4)      Tahap penerimaan. Informasi yang dikirim oleh pihak komunikator melalui media komunikasi diterima oleh pihak penerima informasi. Penerima informasi ini disebut dengan komunikan.

5)      Tahap menginterpretasikan gagasan atau pesan yang diterima. Tahap ini sering disebut juga tahap decoding. Dalam tahap ini gagasan-gagasan atau pesan-pesan yang diterima diintrepretasikan atau diartikan.
Tahap pemberian tanggapan. Setelah pihak penerima berita (komunikan) melakukan intrepretasi terhadap informasi yang diterima, penerima berita akan memberikan tanggapan. Tanggapan yang diberikan oleh penerima berita sering disebut respon, umpan balik atau feedback.