Sabtu, 18 Februari 2012

Kembalikan Senyumku Tuhan…


Kembalikan Senyumku Tuhan…

Synopsis tentang aku : namaku Ditha Pranata.. biasa di panggil Tha-tha, aku terkenal sebagai anak yang ceria di lingkungan sekolahku ohh yah aku ini punya hobby yaitu menulis sebuah puisi,hehehe. Rambutku panjang sepundak ya agak ikal dan berwarna hitam tubuhku kurus tinggi dan kulitku sawo mateng, hehehe. Sekarang aku sudah berumur 14 tahun. Aku sekolah di SMP 01 Kartini., aku juga mempunyai 2 orang sahabat kecil ku yang menyayangiku namanya Lidya, dan Tifany..mereka selalu membuat ku tersenyum lepas ketika aku menangis…

Pagi itu mentari tampak cerah seindah senyumanku. Kusapa mamah papah yang sudah standby dimeja makan bundar diruang tengah kecil rumahku..
“ pagi mah..pagi pah..”
“pagi sayangg..sarapan dulu tha”
“gak mah, tha mau buru-buru, hari ini ada praktek biologi mah. Tha juga belom belajar..hehehe”
“minum susunya dulu tha..”
“iiah mah..”

Aku pun melangkahkan kakiku keluar rumah dan mengucap salam pada mamah papah tuk pergi sekolah. Aku selalu senang bila sudah berangkat menuju sekolah, menurutku sekolah itu rumah ke 2 aku.. Ingin rasanya aku tetap ceria seperti ini Tuhan (pintaku dalam hati) namun ketika penyakit ini kambuh lagi, senyum dan ceriaku seakan hilang bahkan mati (renungku sepanjang jalan).

“doooorr…”
“(kaget) huuhh… kamu kenapa sich selalu ngagetin aku dar belakang!!..”
“waw..marah-marah sich kura-kura betina..hehehe”
“bisa gak sich jangan bilang aku kura-kura!”
“hahaha..bisa. kalo gitu aku panggil siput jelek aja yah…hehe”
“puass kamu katawain aku dhi!!”
“eh..eh..kamu marah tha? Maaf atuh tha…kamu kenapa dari tadi melamun mulu?”
“yah aku maafin.. gak apa-apa koq dhi… tumben kamu lewat sini!..”
“sepedaku lagi rusak tha..hehe. kamu sendiri aja tha jalan kesekolah? Apa gak capek tha jalan kayak gini? Kenapa gak naik angkutan umum or sepeda gitu tha? Kan lumayan jauh juga…”
“(jengkel) bisa gak sih kamu ngomong pakek titik sama koma.. biar sehat makanya jalan kaki. Kenapa sepedamu?”
“ kan aku bilang rusak sipuut jelek…(sambil mencubit pipi tha-tha)”
“ihh..apaan sich pakek cubit segala, sakit tau!!.. “
“hahaha…biarin!.. tha nanti ikut jalan-jalan OSIS gak?”
“emang mau kemana?”
“ke rumah ku…(melet)”
“(mengijak kaki didi)”
“uhh!!sakiit tha…”
“biariin, habis dari tadi cari masalah mulu sama ku (melet)”
“(tersenyum)”
Sepanjang jalan menuju sekolah, kami mengobrol dan saling tertawa satu sama lain. Hatiku yang sempat sedih mulai tersenyum kembali ketika Didi tersenyum di bola mata kecilku ini.
“eh..eh.. si tha-tha bareng si dhi-dhi….hehehe”
“tau tuh aku nemu anak ini ngemis minta-minta, makanya aku ajak karena aku iba lihatnya…(tertawa lepas)”
“seneng yah kalo ngeledek aku yang ganteng ini..hehehe”
“(woooo…oooo….) ledek kami bertiga”
“mukamu kenapa pucet gitu tha?tanya lidya”
“ahh masa?? Mungkin karena belom sarapan kali”
“hahaha..males dandan jadi gitu mukanya,sambung didi”
“yuk masuk lab tha,lid..(ajak Tifany)”
“okeh..sampai jumpa nanti ya siput jelek…hahaha”
Aku dan didi pun berpisah melangkah menuju kelas masing-masing. Aku dan teman-teman memasuki ruang lab biologi disekolah kami dan mengikuti semua pelajaran yang diberikan oleh bu guru. Entah apa yang kurasa…kepalaku mendadak sakit, sakitnya bukan seperti pusing biasa.
“kamu kenapa tha? Tanya Tifany”
“mukamu pucat banget! Duduk dulu tha..”
“aku gak tau kenapa ini! Kepalaku pusing bukan main.. (seruku)”
“ku belikan minum dikantin yah tha”
“iiah..”
“sekalian beliin obat pereda pusing Fann..siapa tau pusingnya ngurang”
“gak usah Fann…belikan aku air minum saja”
“kamu yakin gak apa-apa tha??”
“aku gak apa-apa koq Lid..”
Kenapa badanku enggan untuk bergerak Tuhan… kenapa ini??? Apa penyakit ini sudah mulai menggerogoti seluruh badanku?? Aku gak boleh terlihat lemah dihadapan mereka! Aku pasti bisa untuk mengangkat tubuh ini dari bangku yang aku duduki ini..!! ayo Ditha… jangan cengeng…
“kenapa tha?”
“tha…tha…”
“ahh..iiah kenapa Lid?”
“kamu baik-baik aja kan?”
“(tersenyum)”
Tifany pun datang membawa minum untukku yang dibelinya dikantin sekolahku… perlahan aku mulai sedikit membaik.. tapi badan ini terasa mati untukku.. jam dinding sekolah pun berlalu… waktunya untuk pulang. Teman-teman sekelasku mulai berhamburan keluar kelas namun aku masih terdiam di bangku tempat ku duduk.
“ tha gk pulang?”
“kalian duluan aja..”
“mauh bareng gak tha?...”
“gak usah…aku bareng didi aja Lid,Fann..”
“ohh…ya sudah…kamu hati-hati yah tha..”
“iiahh…kalian juga yah”
Lidya dan Tifany pun meninggalkan ruang kelas. Kini hanya ada aku dan bangku kosong di ruang kelas. Sebenarnya aku berbohong pada mereka. Mana mungkin aku pulang dengan Didi..pasti Dy sudah pulang duluan. Lalu….
Terdengar suara gertak langkah kaki dari luar. Aku takut itu satpam sekolah… ketika suara itu mulai dekat, ternyata yang muncul adalah Didi. Aku pun terkaget dan yah sedikit dag-dig-dug…hehehehe
“ehh…sipuut ngapain dikelas kosong??(menghampiriku)”
“lagi duduk aja!!emang ada yang larang gitu?”
“enggak  sich…pulang yuk..(sambil memasang senyum kecil dibibirnya)”
Ya Tuhan manisnya senyumnya..membuatku ingin bangkit dari kursi yang mulai memanas ini… nekatku akupun meranjak dari kursiku setelah mendengar Didi mengajakku pulang bareng dengannya.
“waw…semangat amat mbakk…hehehehe”
“(jengkel) mau pulang atau gak!”
“hahaha… iiah-iiah..”

Kamipun pulang menuju rumah, sepanjang perjalanan Didi menghiburku dengan bualan gombal dan cerita lucunya. Hatiku senang sekali.. sakit yang kurasa saja sampai ku abaikan…yah walaupun sebenarnya aku masiih ta berdaya untuk bergerak. Terima kasih Tuhan masih memberi aku hidup yang indah ini… aku bisa melihat senyum manis kecil Didi di depan mataku yang membuat aku menjadi manusia yang beruntung..karena diusia ku yang sudah tak lama lagi ini menurutku, aku masih bisa melihat orang disekelilingku tersenyum dan tertawa (dalam lamunanku).

“tha..tha…thatha!!!!...”
“gak usah teriak! Aku denger koq dhi..”
“suka banget yah kamu ngelamun…gak baik tauh..”
“ah sotoy kamu (melet)”
“hahaha somayyy (tertawa)”
“dasar tukang somaayy…hahahaha”
“indahhh….”
“apanya yang indah dhi??”
“senyuman kamu “
“hah? Serius? (tersipu malu)”
“iiah…tapi bohongg (melet)”
“(injak kaki didi)”
“kebiasaan!!sakiit tau..”
“hahaha biarin…”
Atap rumahku pun mulai terlihat, ini pertanda aku akan sampai rumah… ya Tuhan aku gak mau jauh dari Didi.. cepat sekali rasanya sampai dirumah.. (teriakku dalam hati)
“tu kan melamun lagiii!!!!...”
“(tersenyum)”
“senyum gak jelas…hahaha. Oke kita pisah sampai sini yah… kamu lurus aku belok (tersenyum)”
“pisahh??selamanya?? (ucapku dengan lantang)”
“hahahaha…maksudku kamu pulang kerumahmu, aku pulang kerumahku.. besok kan kita masih bisa berangkat sama-sama lagii (sambil memasang senyum kecilnya)”
“kalo gak bisa gimana? Kalo aku udah gak ada gimana? Apa masih bisa kayak gini lagi sama kamu?”
“ahh…bicara apa kamu ini tha!!..udah sanah cepet masuk rumah (sambil mengelus helaian rambutku )”
“aku serius dhi (menangis)”
“ehh..jangan nangis ahh jadii jelek tuh mukanya..hehe”
“(menangis tertunduk)”
“kamu jangan bicara gitu lagi yah sipuut…(tersenyum sambil mengangkat mukaku yang menangis tertunduk) kamu sekarang masuk rumah dan istirahat kalo capek…hehe”
“iiah…(nada merendah)”
“hmm…mana senyumnya siiput jelek… ”
“hehehehehe…makasii yah dhi…”
“buat apa tha??”
“buat hari ini..seumur umur baru kamu aja anak cowo yang bisa hibur aku dhi”
“ahh masah…hehehe. Iiah sama-sama sipuut jelek ”
“udah aku bilang jangan bilang aku siput jelek!!”
“hahahaha…”
“aku pamit yah (tersenyum)”
“tunggu dulu tha”
Langkahku pun terhenti ketika Didi bilang itu…
“jangan lupa makan yah (tersenyum)”

Aku pun tersenyum ketika dy bilang seperti itu..baru kali ini ada yang memberi perhatian lebih padaku… aku pun mulai berlalu dari hadapan Didi dan Didi pun mulai melangkahkan kakinya menuju jalan kerumahnya.
Tuhan.. terimakasih buat hari ini.. (didalam kamar) tiba-tiba…
Sakit ini datang lagi…kali ini membuatku kaku untuk menulis buku diari ku… mataku mulai redup, kepalaku sakit badanku mati rasa…tak bisa membuat aku teriak memanggil papah dan mamah… Cuma tangisan yang aku rintihkan…
Tuhann….
Akupun pingsan tak sadarkan diri. Dan tiba-tiba aku berada di rumah sakit…
2 jam aku tak siuman…. Ketika ku buka kan mata ini. Aku melihat papah mamah dan kaka di samping tempat aku terbaring dirumah sakit. Aku tak tau apa yang terjadi tadi, tiba-tiba aku berada disini.

“pah..mah.. kenapa bawa aku kesini?”
“tadi kamu pingsan tha, mamah kasih minyak angin kamu gak bangun.. mamah sama papah bingung dan akhirnya membawa kamu kerumah sakit.”
“gak usahlah bawa aku kesini pah, mah!!”
“ngomong apa kamu ini dek…. Kita tuh khawatir sama kamu”
“maafin aku ka.. mah aku sakit apa sebenarnya? Kenapa dari usia ku yang ke 7 aku gak boleh tau penyakitku ini? Tiap saat kambuh aku minum banyak obat!! Apa yang aku derita pah mah?? Kenapa saat penyakit ini datang aku tidak bisa berbicara bahkan seluruh tubuhku tak bisa ku gerakkan… menulis pun aku tak mampu!!! (menangis)”
“maafin mamah sama papah dan juga kakamu yah tha”
“maaf untuk apa mah?”
“selama ini kami tidak memberi  tau apa penyakitmu ini. Sewaktu kami tau kamu divonis penyakit ini kami shok…. Entah apa yang harus kami lakukan. Sementara itu kamu masih hobby menulis dan hidup canda tawa bersama sahabat-sahabatmu… mamah papah..sama kaka gak mau lihat senyummu itu menjadi pudar karena vonis ini tha… (mamah pun menangis di hadapanku)”
“mah..pah..ka.. apapun yang tha derita, tha sudah siap koqq… gak usah harus seperti ini. Kan sayang uang papah dibuang Cuma buat beli obat tha dan lain”… jika tha harus pergipun tha ikhlas mah… tha bersyukur bisa ketawa, tersenyum sama kalian dan sahabat-sahabat tha disini.. buat tha biarpun waktu itu Cuma sebentar tha dapetin tapi tha merasa senang… sekarang tha siap koqq buat tau penyakit itu mamah…papah…( berusaha ku tersenyum walau tak kuat ku rasa )”
“kamu divonis terkena kanker otak kecil stadium akhir tha… kanker itu sudah ada saat usia kamu masih 1 bulan setelah mamah melahirkan kamu…penyakit itu menyerang bangian otak kecilmu, dimana fungsi otak kecil itu adalah sebagai alat keseimbangan tubuh dalam melalukan gerak serta aktivitas otot di tubuhmu sayang…itu sebabnya jika terkena penyakit tersebut seluruh kerja otot penggerak serta keseimbangan tubuhmu akan hilang tha… waktu itu ketika kamu lahir, kamu tidak menangis..tidak bergerak namun bernafas… mamah sama papah bingung  sama keadaan kamu.. mamah suruh dokter spesialis buat periksa kamu. Dan ternyata kamu terkena kanker otak kecil. Namun waktu itu masih stadium rendah dan kata dokter bisa di sembuhkan. Seiring berjalannya waktu kamupun tumbuh dewasa layaknya anak sehat lainnya.. ketika usia mu 2 tahun pengobatanmu terhenti. Hingga kamu berusia 7 tahun, makanya saat itu mamah bawa kamu kerumah sakit jika kamu mengeluh sakit di bagian kepala bagian belakang. Lalu kata dokter sama mamah penyakitmu sudah masuk stadium lanjut.. penyakit itu cepat sekali merambat kedalam tubuh mungilmu. Mamah sama papah Cuma bisa berdoa sama Tuhan agar kamu bisa hidup lebih lama lagi. Kakamu mulai mencari uang demi pengobatanmu.. (mamah menangiis dan memeluk tubuh lemahku ini)”

Yah Tuhan ini ternyata penyakitku! Sehingga membuatku terasa tak berdaya… kenapa kau cobai aku seperti ini Tuhan… kenapa!!!!apa salah ku selama ini!!!... hingga kau rengut senyum dan hidupku!! (akupun memberontak menangis di hadapan kedua orang tua dan kakaku )
Mamah dan papah berusaha menenangkanku…
Aku pun perlahan tenang…dan pikiranku pun sekarang hanya berserah pada Tuhan..
Aku bahagia memiliki keluarga yang menyayangiku hingga aku sakit seperti ini.. hidup ku sangat beruntung, sampai usiaku yang ke 14 ini aku masih diberikan kehidupan. Mungkin seseorang yang mengalami penyakit ini dr bayi bisa meninggal pada saat itu!! Namun aku tidak…
Aku masih diijinkan untuk bisa membuat orangtua dan kakaku tersenyum… 

“ mah….”
“iiah sayang”
“aku mau pulang kerumah! (pintaku)”
“kamu kan belum membaik sayang…”
“gak mah…ijinkan aku untuk istirahat dirumah saja. Aku ingin menghabiskan waktuku dirumah sama mamah…papah…dan kaka…”
“baiklah kalau itu pintamu…”

Akupun pulang kerumah pada saat itu. Kulihat muka mamah yang berusaha merawat tubuh mati ini… mendorong kursi roda ini jika aku ingin ke meja belajar biru langit didepan tempat tidurku. Sudah 2 minggu aku tak masuk sekolah… sahabat dekatku pun menjengukku dirumah… Lidya dan Tifanny menangis ketika mandengar bahwa aku tak lama lagi tidak ada di samping mereka. Sahabat ku sejak kecil yang selalu membuatku tersenyum kini kubuat mereka menangis… mereka ber2 pun memeluk erat tubuh ini. Saat  itu aku berharap sosok Didi datang menjengukku.. sudah 2minggu selama aku tak masuk sekolah ini tak ada kabar darinya. Lidya dan Tifanny pun tak tau kabar anak itu. Aku pun menangis dan menggerakkan kursi roda ini ke arah kamarku dan menutup pintu kamarku.

“ Lidya,Tifanny… tha kenapa sedih dan menangis menuju kamar?? Tanya mamah”
“gak tau tante kami juga…”
“apa ada seseorang yang membuat tha menangis seperti itu?”
“sebenarnya ada tante, namanya Didi.. mereka sudah lama kenal, namun baru akrab sekali 2minggu yang lalu.. waktu itu mereka berangkat sekolah sama-sama. Kami lihat tha tersenyum dan tertawa senang dengan adanya Didi waktu itu tante… tha sempat cerita waktu itu kalo senyum Didi itu membuat Ia semangat. Namun sudah 2 minggu ini tidak ada kabar dari dhi tante! Bahkan sosoknya tak lagi kami lihat di sekolah…”
“mungkin karna itu tha menjadi sedih!”

Sementara mereka bercakap-cakap diruang keluarga, aku menangis di ruang kamar biru kecilku ini… mulai ku tuliskan sebuah puisi untuk mereka yang membuatku tersenyum terutama Didi… aku merindukan sosok Didi sekarang Tuhan (rintihku) kemana dy Tuhan…
Mengapa tak ada satupun kabar yang bisa aku dapatkan darinya…. Aku pun menangis dan mengeluh pada sakitku ini…
Hingga kuw tuliskan sebuah puisi terakhir untuk mereka semua… mungkin Didi pindah sekolah pikirku…
Karna waktu kelas 1 dulu dy pernah bilang padaku bahwa dy akan pindah sekolah sebelum kelas 3 SMP. Ku pikir ini Cuma bualannya saja
tapii…
Ternyata semua nyata…
Aku berharap ketika hembusan nafas terakhir ini Didi datang ke pemakaman ku Tuhan… hanya itu pintaku!!...
Walau tak bisa melihatnya secara langsung namun aku bisa merasakannya meski kita ada didunia yang berbeda..
“sakiitttt!!!! (dalam hatiku)
Sementara di ruang tamu….
“tante… koqq tha gak keluar-keluar sich??”
“iiah tante juga heran… harusnya dy kesini lagi temani kalian mengobrol”
“coba di cek dah tante!!”
Mamah serta sahabatku pun menghampiri pintu kecil kamar biruku…
Mereka memanggil namaku… namun aku tak mendengar mereka…
Aku tertunduk di atas meja belajar biruku..diatas secarik kertas puisi yang sempat aku tuangkan tinta hitam di kertas itu.
“tha!!!tha!!tha!! buka pintunya sayang!” (teriak mamah panik)

Papah dan kaka pun datang dari luar pintu. Mendengar suara mamah teriak namaku papah dan kaka pun berlari gegas menghampiri pintu rumahku… akhirnya pintu kecil kamarku bisa dibuka dengan kunci duplikat yang disengaja dibuat kaka hanya untuk kamarku. Karna dulu aku sering sekali mengunci diri di kamar ketika menulis puisi… takut aku kenapa-kenapa makanya kaka membuat kunci cadangan untukku..
Mereka semua melihat ku terlentang diatas meja belajar biru ku… mamah, papah, kaka dan kedua sahabat ku menangis tak tertahan melihat nyawaku sudah tak bernyawa… aku tau Tuhan itu tangis yang berharga untukku…

Namun mengapa aku tak bisa tersenyum saat mereka melihatku sudah tak ada…!!
Kembalikan senyumku Tuhan! Sebentar saja… namun tetap tidak bisa! Karena suasana saat itu sedang berduka. Keesokan harinya jasad tubuh mungil kecilku di letakkan ditempat yang paling indah yang belum pernah kulihat saat ku hidup dulu. Ku lihat semua orang menangis padaku… aku mengerti sosok ku bukan lagi manusia tetapi berupa roh yang tak bisa dilihat oleh mereka.
Seberharga ini kah hidup ku Tuhan??!!...

Aku bahagia sekarang… aku ingin pergi dengan tenang sekarang Tuhan…
Tak lama kemudian seseorang dari balik pintu datang menghampiri jasadku… ternyata itu adalah Didi!! Terima kasih Tuhan kau masih mau mendengar pintaku saat aku sudah tak ada lagi. Aku pun mulai terasa bahagia ketika Didi datang memeluk jasadku dan berkata “ pergilah dengan tenang tha… tetaplah tersenyum di dunia yang baru nanti “ aku tau Didi sedih…hatinya menangis!! Namun Ia berusaha tegar melihat aku terbaring selamanya. Ia masih sempat memberikan aku senyuman itu walaupun tak bisa ku balas lagii… satu hal lagii Tuhan… sebenarnya aku sudah mengetahui penyakitku ini! Karena waktu periksa di umur ku yang ke 7 ini aku tak sengaja mendengar pembicaraan antara dokter dan kedua orang tuaku.. aku pun sengaja pura-pura tak tau agar mereka masih bisa melihat ku bahagia hingga hari terakhirku nanti…
Maafin aku yah mamah papah….
Kini aku bisa pergi dengan tenang bersamamu Tuhan…!!
Terimakasih untuk mereka.

Ini sebuah puisi yang kutuliskan untuk mereka yang di bacakan oleh sahabatku Lidya seminggu setelah kepergianku
                                                


Kembalikan senyumku Tuhan

Tuhan…
Entah apa yang kuderita saat ku kecil…
Membuatku semakin berarti di dunia ini…
Kau berikan keluarga yang menyayangiku hingga ku mati nanti…
Kau berikan sahabat yang setia menemani hari-hariku…
Dan kau berikan sosok laki-laki dengan senyuman manis di bibirnya…
Semua untukku Tuhan…
Aku bahagia saat merasakan hangat senyum itu…
Namun ketiika detik terakhirku…
Mengapa senyum itu hilang dan pergi …
Seakan – akan kau tarik senyumku jauh dari mereka…
Kembalikan senyumku Tuhan!!...
Kembalikan aku ke hadapan mereka…
            Aku tak ingin seperti ini…
            Aku tak ingin pergi…
            Dan Aku tak ingin hilang selamanya…
Kembalikan senyumku Tuhan…
Walau nanti aku tak bernafas lagi…
Yang terindah bagiku…
Tetap tersenyum walau bukan sosok ku lagii…
Bahagiaku untuk mamah dan papah…
Ceriaku untuk kaka yang kusayang…
Candaku untuk sahabat kecilku yang setia….
Dan senyum indahku untuk dy yang kucinta…

                                                                                    Sincerely -Ditha Pranata -




Cerita by : wenny srivera

1 komentar: